Pembelajaran bauran adalah pendekatan pembelajaran yang memadukan secara harmonis, terstruktur dan sistematis antara keunggulan pembelajaran tatap muka (face to face) dan daring (online). Pembelajaran bauran menjadi populer seiring dengan pesatnya perkembangan TIK, yaitu perpaduan jaringan internet dan kemampuan komputasi (IoT) memungkinkan pembelajaran lebih efsien dan efektif dalam pengembangan capaian pembelajaran pada diri mahasiswa. Sebelumnya telah disebutkan bahwa pembelajaran bauran memungkinkan mahasiswa terlibat (engage) dalam pembelajaran secara aktif, dan dengan demikian pembelajaran berpusat pada mahasiswa (SCL). Di dalam implementasi program MBKM, pembelajaran bauran menjadi salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk memfasilitasi mahasiswa pada saat mengikuti proses pembelajaran di luar Program Studi Bimbingan dan Konseling.

Dalam pembelajaran bauran, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar saat didampingi dosen di kelas ataupun di luar kelas, namun juga mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas secara mandiri. Saat belajar di kelas bersama dosen, mahasiswa mendapatkan materi pembelajaran dan pengalaman belajar (orientasi, latihan dan umpan balik), praktik baik, contoh, dan motivasi langsung dari dosen. Sedangkan pada saat belajar secara daring mahasiswa akan dapat mengendalikan sendiri waktu belajarnya, dapat belajar di mana saja, kapan saja dan tidak terikat dengan metode pengajaran dosen. Mahasiswa dapat belajar secara mandiri atau berinteraksi baik dengan dosen maupun sesama mahasiswa serta memiliki akses ke berbagai sumber belajar daring yang dapat diperoleh dengan menggunakan gawai dan aplikasi-aplikasi yang ada dalam genggamannya secara mudah. Ragam objek pembelajaran lebih kaya, dapat berupa buku-buku elektronik atau artikel-artikel elektronik, simulasi, animasi, augmented reality (AR), virtual reality (VR), video-video pembelajaran atau multimedia lainnya yang dapat diakses secara daring. Klasifikasi pembelajaran bauran ditinjau dari pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran tersaji pada Tabel.

Defnisi secara jelas proporsi pembelajaran daring di dalam pembelajaran bauran, seperti ditunjukkan pada Tabel III.3. Pembelajaran bauran dapat melibatkan sebanyak 30-79% proporsi pembelajaran daring. Namun secara substansial penyampaian materi dan proses pembelajaran, termasuk asesmen, dominan dilaksanakan secara daring (online). Modus pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan daring dilaksanakan secara terintegrasi dan sistematis berorientasi pada capaian pembelajaran. Dengan batasan di dalam Tabel III.3., penggunaan laman (webpage) hanya untuk meletakkan RPS, materi pembelajaran dan instrumen pembelajaran lainnya tidak dikatakan sebagai pembelajaran bauran, namun dapat disebut pembelajaran terfasilitasi web. Berbeda dengan pembelajaran tunggal secara daring, proses pembelajaran secara terstruktur dan sistematis dilaksanakan sepenuhnya secara daring.

Tabel. Batasan Definisi Pembelajaran Bauran dan Bukan Bauran

Proporsi Pembelajaran daringBentuk pembelajaranDeskripsi
0%Tatap MukaPerkuliahan tanpa menggunakan teknologi
online. Materi pembelajaran disampaikan secara tertulis atau oral.
1%-29%Terfasilitasi jaringan (web enhanced)Perkuliahan yang dilaksanakan berbasis
teknologi jejaring terutama hal-hal dianggap penting saja sebagai tambahan untuk memperkuat fasilitasi pembelajaran secara tatap muka.
30%-79%Bauran (Blended)Pembelajaran dilaksanakan secara bauran
baik secara daring maupun tatap muka. Secara substansial proporsi penyampaian materi pembelajaran dan proses pembelajaran, termasuk asesmen dilaksanakan secara daring. Umumnya pelaksanaan pembelajaran daring dan tatap muka adalah terintegrasi secara sistematis berorientasi pada capaian pembelajaran.
>= 80%Daring Penuh
(Fully online)
Pembelajaran hampir sepenuhnya atau
sepenuhnya terjadi secara daring, sudah tidak terjadi lagi tatap muka secara terstruktur. Semua materi dan proses pembelajaran dilakukan secara daring.

Pembelajaran bauran dalam pelaksanaanya, baik dalam perspektif dosen maupun mahasiswa, memiliki beberapa model praktik baik. Program studi dapat menerapkan berbagai model pembelajaran bauran, seperti rotation model, flex model, self-blend model, enriched virtual model atau flipped learning, yang sesuai dengan lingkungan pembelajarannya. Salah satu model rotasi (rotation model), yaitu flipped learning (flipped classroom) dijelaskan secara ringkas di bawah ini, sedangkan penjelasan khusus tentang model-model pembelajaran bauran akan dibuatkan panduan khusus terpisah tentang pembelajaran daring.

Model flipped learning adalah salah satu model rotasi dari pembelajaran bauran. Mahasiswa belajar dan mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan rencana pembelajaran yang diberikan oleh dosen secara daring di luar kelas. Kemudian saat berikutnya mahasiswa belajar tatap muka di kelas, mahasiswa melakukan klarifkasi-klarifkasi dengan kelompok belajarnya apa yang telah dipelajari secara daring, dan juga mendiskusikannya dengan dosen. Tujuan model flipped learning ini untuk mengaktifan kegiatan belajar mahasiswa di luar kelas, mahasiswa akan didorong untuk belajar menguasai konsep dan teori-teori materi baru di luar kelas dengan memanfaatkan waktu 2×60 menit penugasan terstruktur dan belajar mandiri setiap satu sks nya. Belajar di luar kelas dilakukan oleh mahasiswa dengan memanfaatkan teknologi informasi, menggunakan learning management system (LMS) iE ULM atau Integratif Elearning Universitas Lambung Mangkurat yang merupakan platform LMS berbasis Moodle yang disediakan Universitas Lambung Mangkurat. iE ULM memungkinkan mahasiswa dan dosen melakukan pembelajaran secara real time (Sybchronus) dan pada waktu yang berbeda (asynchronous). Dengan adanya LMS ini maka dosen dapat mendesain course pada e-learning ULM dengam membuat konten aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dapat memudahkan mahasiswa dalam belajar. LMS ini tersedia di dalam web SIMARI ULM melalui url://simari.ulm.ac.id Belajar di luar kelas juga dapat menggunakan video pembelajaran, buku elektronika, dan sumber-sumber belajar lainnya yang dapat diperoleh mahasiswa dari internet. Pada tahap selanjutnya mahasiswa akan belajar di dalam kelas mendemonstrasikan hasil belajar dari tahap sebelumnya, berdiskusi, melakukan refleksi, presentasi, mengklarifikasi, dan pendalaman dengan dosen dan teman belajar dengan memanfaatkan waktu 50 menit per satu SKS. Model flipped learning ini dapat dilakukan untuk tiap tahapan belajar yang memerlukan waktu satu minggu, dua minggu, atau lebih sesuai dengan tingkat kesulitan pencapaian kemampuan akhir (Sub-CPMK).

Pedoman Klasifikasi Nilai Akhir
Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP ULM

Nilai AngkaNilai HurufBobot
80 – 100A2
77 – 79,9A-3,75
75 – 76,9B+3,5
70 – 74,9B3
66 – 69,9B-2,75
61 – 65,9C+2,5
55 – 60,9C2
50 – 54,9D+1,5
40 – 49,9D1
0 – 39,9E0

Hubungan Indeks Prestasi (IP) dan Jumlah Kredit Satuan Kredit Semester (SKS) Semester yang Boleh Diambil
Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP ULM

Indeks Prestasi (IP) Semester SekarangJumlah Maksimal SKS yang
Diambil Semester Berikutnya
3,51 – 4,0024 SKS
2,76 – 3,5022 SKS
2,00 – 2,7520 SKS
>1,5016 SKS