Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi maka mendorong program studi bimbingan dan konseling untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan tersebut.

Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Lambung Mangkurat telah merumuskan kurikulum berbasis KKNI dan menerapkannya mulai tahun ajaran 2017/2018. Namun pengembangan kurikulum tersebut kemudian tersebut perlu dikembangkan lagi dengan adanya peningkatan Bentuk Kegiatan Pembelajaran (BKP) dalam skema Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) tahun 2020, terutama menyiapkan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Lambung Mangkurat menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat, kompetensi mahasiswa harus disiapkan untuk lebih gayut dengan kebutuhan zaman.

Konsep yang dikembangkan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan selama ini, dalam menyusun kurikulum dimulai dengan menetapkan profil lulusan yang dijabarkan menjadi rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Rumusan kemampuan pada deskriptor KKNI dinyatakan dengan istilah capaian pembelajaran (terjemahan dari learning outcomes), dimana kompetensi tercakup di dalamnya atau merupakan bagian dari capaian pembelajaran (CP). Penggunaan istilah kompetensi yang digunakan dalam pendidikan tinggi (DIKTI) ditemukan pada Permendikbud No. 3 Tahun 2020 tentang SN-DIKTI pasal 5, ayat (1), yang menyatakan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).

University value dari Universitas Lambung Mangkurat adalah lahan basah, Harianto & Dewi (2017: 32-35), menjelaskan bahwa lingkungan lahan basah adalah suatu wilayah genangan atau wilayah penyimpanan air, memiliki karakteristik terresterial dan aquatic. Lahan basah dicontohkan seperti daerah rawa-rawa, mangrove, payau, daerah genangan banjir, hutan genangan serta wilayah sejenis lainnya. Lahan basah yang banyak diketahui oleh masyarakat adalah lahan basah seperti rawa-rawa, air payau, tanah gambut. Masyarakat beranggapan lahan ini merupakan wilayah yang tidak menarik bahkan dianggap berbahaya. Pada kenyataannya ekosistem lahan basah banyak menyimpan berbagai satwa dan tumbuhan liar yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada keberadaan lahan basah ini. Sebagai contoh jenis serangga yang tinggal di kawasan ini yang menjadikannya tempat tinggal (habitat) sehingga mampu membentuk ekosistem tersendiri. Bahkan dibandingkan dengan ekosistem lainnya ternyata ekosistem lahan
basah boleh dikatakan yang terkaya dalam menyimpan jenis flora dan fauna.

Pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Lambung Mangkurat, maka keunggulan studi bimbingan dan konseling komunitas lahan basah menjadi dasar yang kokoh dalam menekankan pada keunikan peserta didik/konseli, eksistensi peran guru bimbingan dan konseling atau konselor, pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling, dan latar/setting keberadaan peserta didik atau konseli komunitas lahan basah. Berikut ini disajikan tabel isu strategis, konsep pemikiran, pemecahan masalah, topik riset-PkM, dan KPI (Key Performance Indicators) bimbingan dan konseling.

Rincian secara mendalam untuk menunjukkan kajian keunggulan bimbingan dan konseling di lingkungan lahan basah seperti tertera pada tabel berikut ini.

A. Kompetensi Pedagogik Bimbingan dan Konseling Komunitas Lahan Basah

Pokok Keunggulan StudiRincian Keunggulan Studi
Teori dan praksis pendidikan komunitas lahan basaha. Ilmu pendidikan dan kekhasan landasan keilmuan bimbingan dan konseling;
b. Implementasi prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran;
c. Landasan budaya dalam praksis pendidikan.
Aplikasi perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli komunitas lahan basaha. Kaidah-kaidah perilaku manusia, perkembangan fisik dan psikologis individu terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling;
b. Kidah-kaidah kepribadian, individualitas dan perbedaan konseli terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling;
c. Kaidah-kaidah belajar terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling;
d. Kaidah-kaidah keberbakatan terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling;
e. Kaidah-kaidah kesehatan mental terhadap sasaran pelayanan bimbingan dan konseling.
Esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan di komunitas lahan basaha. Esensi bimbingan dan konseling pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal dan informal;
b. Esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus di komunitas lahan basah;
c. Esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah, serta tinggi di komunitas lahan basah.

B. Kompetensi Kepribadian Bimbingan dan Konseling Komunitas Lahan Basah

Pokok Keunggulan StudiRincian Keunggulan Studi
Nilai-nilai kemanusiaan, individualitas dan kebebasan memilih dalam pembentukan kepribadian konselor atau guru bimbingan dan konseling komunitas lahan basah.a. Pandangan positif dan dinamis masyarakat tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi;
b. Penghargaan dan pengembangan potensi positif individu pada umumnya dan konseli;
c. Kepedulian terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya;
d. Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya;
e. Toleransi konselor atau guru bimbingan dan konseling terhadap permasalahan konseli;
f. Sikap demokratis hubungan konselor atau guru bimbingan dan konseling dengan konseli/peserta didik.
Integritas dan stabilitas kepribadian konselor atau guru bimbingan dan konseling komunitas lahan basaha. Gambaran kepribadian dan perilaku yang terpuji (seperti berwibawa, jujur, sabar, ramah, dan konsisten) konselor atau guru bimbingan dan konseling;
b. Gambaran kestabilan emosi konselor atau guru bimbingan dan konseling;
c. Gambaran kepekaan, empati, serta menghormati keragaman dan perubahan konselor atau guru bimbingan dan konseling;
d. Gambaran toleransi konselor atau guru bimbingan dan konseling terhadap konseli yang menghadapi stres dan frustasi.
Tampilan kinerja berkualitas konselor atau guru bimbingan dan konseling komunitas lahan basaha. Penampilan tindakan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif konselor atau guru bimbingan dan konseling;
b. Kepribadian bersemangat, berdisiplin, dan mandiri konselor atau guru bimbingan dan konseling;
c. Tampilan menarik dan menyenangkan konselor atau guru bimbingan dan konseling;
d. Cara berkomunikasi efektif konselor atau guru bimbingan dan konseling.

C. Kompetensi Sosial Bimbingan dan Konseling Komunitas Lahan Basah

Pokok Keunggulan StudiRincian Keunggulan Studi
Implementasi kolaborasi intern di tempat bekerja bimbingan dan konseling pada institusi pendidikan komunitas lahan basaha. Keunikan dasar, tujuan, organisasi, dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah) pada institusi pendidikan;
b. Gambaran dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain pada institusi pendidikan;
c. Gambaran bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja (seperti guru, orang tua, tenaga administrasi) pada institusi pendidikan.
Gambaran peran Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) di lingkungan komunitas lahan basaha. Penyusunan dasar, tujuan, dan AD/ART pada PD ABKIN untuk pengembangan diri dan profesi;
b. Gambaran ketaatan pada kode etik profesi bimbingan dan konseling;
c. Tingkat partisipasi dan keaktifan konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri dan profesi.
Impelementasi kolaborasi antar profesi komunitas lahan basaha. Gaya mengkomunikasikan aspek-aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain;
b. Peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling;
c. Gambaran bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain;
d. Pelaksanaan referal kepada ahli profesi lain sesuai dengan keperluan.

D. Kompetensi Profesional Bimbingan dan Konseling Komunitas Lahan Basah.

Pokok Keunggulan StudiRincian Keunggulan Studi
Konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli/peserta didik komunitas lahan basaha. Hakikat pelaksanaan asesmen komunitas lahan basah;
b. Alternatif plihan teknik asesmen yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan dan konseling;
c. Menyusun dan mengembangkan instrumen asesmen yang sesuai dengan keperluan bimbingan dan konseling;
d. Pola pengadministrasian asesmen untuk mengungkapkan masalah peserta didik/konseli yang sesuai;
e. Cara memilih dan mengadministrasikan teknik asesmen pengungkapan kemampuan dasar dan kecenderungan pribadi konseli yang sesuai;
f. Cara memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual peserta didik/konseli;
g. Cara mengakses data dokumentasi tentang peserta didik/konseli dalam pelayanan bimbingan dan konseling;
h. Gambaran pnggunaan hasil asesmen dalam pelayanan bimbingan dan konseling komunitas lahan basah;
i. Batasan tanggung jawab profesional dalam praktik asesmen komunitas lahan basah.
Kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan konseling komunitas lahan basaha. Hakikat pelayanan bimbingan dan konseling pada institusi pendidikan;
b. Gambaran arah profesi bimbingan dan konseling;
c. Aplikasi dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling;
d. Aplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja pada institusi pendidikan komunitas lahan basah;
e. Gambaran aplikasi pendekatan /model/jenis pelayanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling pada institusi pendidikan;
f. Aplikasi dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling pada institusi pendidikan.
Perancangan program bimbingan dan konseling komunitas lahan basaha. Gambaran proses analisis kebutuhan konseli/peserta didik;
b. Penyusunan program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan;
c. Penyusunan rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling;
Perencanaan sarana dan biaya
d. penyelenggaraan program bimbingan dan konseling.
Implementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif komunitas lahan basaha. Pelaksanaan program bimbingan dan konseling;
b. Pelaksanaan pendekatan kolaboratif dalam pelayanan bimbingan dan konseling;
c. Gambaran upaya memfasilitasi perkembangan akademik, karier, personal, dan sosial konseli;
d. Gambaran pengelolaan sarana dan biaya program bimbingan dan konseling.
Penilaian proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling komunitas lahan basaha. Gambaran evaluasi hasil, proses, dan program bimbingan dan konseling;
b. Gambaran penyesuaian proses pelayanan bimbingan dan konseling;
c. Gambaran cara menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait;
d. Penggunaan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling.
Kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional komunitas lahan basaha. Cara memahami dan mengelola kekuatan dan keterbatasan pribadi dan profesional;
b. Gambaran penyelenggaraan pelayanan sesuai dengan kewenangan dan kode etik profesional konselor atau guru bimbingan dan konseling;
c. Gambaran mempertahankan objektivitas dan menjaga agar tidak larut dengan masalah konseli/peserta didik;
d. Gambaran pelaksanaan referal sesuai dengan keperluan;
e. Gambaran kepedulian terhadap identitas profesional dan pengembangan profesi;
f. Gambaran upaya mendahulukan kepentingan konseli/peserta didik daripada kepentingan pribadi konselor atau guru bimbingan dan konseling;
g. Upaya menjaga kerahasiaan konseli.
Penguasaan konsep dan praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling dii lingkunga komunitas lahan basaha. Gambaran berbagai jenis dan metode penelitian bimbingan dan konseling;
b. Perancangan penelitian bimbingan dan konseling;
c. Gambaran pelaksanaan penelitian bimbingan dan konseling;
d. Gambaran pemanfaatan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling bereputasi nasional dan internasional.

Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Lambung Mangkurat dalam pengembangan/penyesuaian kurikulum dalam mengimplementasikan MBKM dan peningkatan kualitas Program Studi Bimbingan dan Konseling, maka orientasi pengembangan kurikulum ini ditambahkan dengan implementasi program MBKM dan implementasi Outcome Based Education (OBE) yang menjadi standar penilaian Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME, Akreditasi Nasional dan Internasional).

Program Studi Bimbingan dan Konseling yang mengimplementasikan MBKM. Menurut penjenjangan KKNI, sarjana pendidikan bimbingan dan konseling merupakan program pendidikan pada jenjang 6. Standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi jenjang 6 diatur dalam SN-Dikti. Standar Kompetensi Lulusan yang dirumuskan sebagai Capaian Pembelajaran Lulusan meliputi CPL Sikap dan Keterampilan Umum (terdapat dalam Lampiran SN-Dikti), sedang CPL Pengetahuan dan Keterampilan Khusus disepakati oleh Forum Kolegial Program Studi, Jurusan dan Pendidikan Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia pada tanggal 10-12 Maret 2018 di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.